Sejarah Melupakan, Melupakan Sejarah

“Sura dira jayadiningrat lebur dening pangestuti”

Bait Pupuh Kinanti dalam Serat Witaradya karya R Ngabehi Ranggawarsita, seorang pujangga Kasunanan Surakarta, itu juga dikutip dalam pengantar buku Kakawin Nagarakartagama untuk menggambarkan (warnana) keberagaman dan arifnya (bisa dibahasakan pendalam agama; dalam Islam disebut tasawuf) raja-raja Majapahit/kerajaan Nusantara pada Abad XIII, XIV, dan XI.

Lantas apa hubungannya dengan domba dan sapi unyu ini? Gambar ini hanya untuk mengingatkan, bahwa pada abad yang saya sebutkan di atas (XIII, XIV, XI) ada sebuah keyakinan yang apabila diterapkan pada abad ini masih sangat relevan, berikut:

Apabila manusia melakukan kesalahan terhadap hewan dan tumbuhan, maka hukumannya 10 tahun. Bila terhadap sesama manusia hukumannya 100 tahun. Bila terhadap penguasa, hukumannya 1000 tahun. Bila manusia berbuat salah terhadap guru, maka hukumannya sengsara seumur hidup.

Nah, memualiakan guru adalah sebuah kewajiban. Guru bukan terbatas pada “seseorang”, namun bisa juga menjadikan sejarah sebagai guru, ‘yang tak pernah bicara’.

Sejarah adalah guru. Melupakan sejarah adalah salah. Melupakan sejarah berarti bersalah kepada guru! Lalu, sebuah bangsa yang melupakan sejarah, maka sengsaralah.

Padahal, Indonesia lebih maju dari bangsa-bangsa lain dalam urusan pencatatan sejarah. Sejak abad-abad lampau, nenek moyang kita telah lama memulai menuliskan kisah yang terjadi saat itu, entah dengan bahasa sastra, tembang, dongeng atau catatan-cattan (tentu tanpa ‘diorder’ oleh raja-raja atau ‘manusia keraton’, seperti yang kini marak dilakukan elit negeri ini, untuk ‘membranding dirinya menjadi yang diinginkan). Tapi, entah kemana lampiran arsip itu kini bersemayam. Lebih mengenaskannya, anak cucu yang kekinian muntah-muntah disodori sejarah. Tinggal makan, enggan. Apalagi mengorek.

Wah, ini terlalu kemana-mana, saya mah hanya ingin menulis pesan untuk para pemimpin, calon pemimpin dan seluruh umat manusia, khususnya penghuni Nusantara, atau khusus untuk anak cucu saya kelak (semoga masih ada facebook!). Bahwa kalimat “sura dira jayadiningrat lebur dening pangestuti” patut untuk kita renungkan dan teladani. Agar kita tidak rakus, apabila jadi pejabat tidak malih tikus dan negara kita menjadi maknyus!

Lantas, apapun itu, entah ini bermanfaat atau tidak, Anda paham atau tidak, mengutip Mbah Thukul Arwana, jangan larut dalam kesedihan, tersenyumlah. Menangis untuk diri sendiri, dan senyum untuk semua orang. Agar orang-orang disekitar kita kecipratan semangat semile dan bahagia.

Ditulis dari hasil perenungan ‘3 hari di Bandung’….

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts