Saya: Selamet Widodo. Penyematan ‘Ibil’ di depan nama saya bermula puluhan tahun lalu, saat saya dan simbah kakung sowan ke ndalem KH. Cholil Bisri, Kakak Kh. Mustofa Bisri, Rembang. Saya sudah menggemari puasa sejak kecil, saat di dalem Kiai Cholil saya menolak dengan berat hati saat ditawari minum dan jajanan. Ketika itu, Kiai Cholil dhawuh, “iseh cilik kok seneng poso, koyo ibil wae (masih kecil kok sudah suka puasa, seperti onta kecil saja)”. Sejak saat itulah, Ibil saya jadikan pelengkap untuk nama saya.

Saya tergolong orang yang tidak menyukai keramaian, lebih sering sendiri di depan komputer untuk mempelajari banyak hal yang membikin saya penasaran, atau sekadar menghabiskan berpuluh-puluh serial drama Korea. Saya tidak memiliki selera musik yang baik. Selama musik itu enak di dengar telinga, apapun genrenya, akan saya putar terus menerus sampai bosan.

Saya suka membaca buku, utamanya yang berkaitan dengan biografi ulama’-ulama dan pahlawan Nusantara. Sebab, bagi saya, membaca perjalanan hidup para tokoh tidak hanya menumbuhkan perspektif baru perihal pandangan hidup, tapi juga termaktub keteladanan untuk menghadapi hidup yang kadang rumit dan menyenangkan ini.

Saya beberapa kali terlibat menulis buku untuk tokoh-tokoh nasional, semisal KH. Said Aqil, Panglima TNI, dsb. Saya juga menggemari dunia desain grafis dan web development. Dua hal yang semula saya pelajari secara otodidak dan kemudian menempuh kursus-kursus untuk mendalaminya, tentu saja dari beasiswa yang saya dapatkan saat bekerja di Jakarta dulu.

Saya adalah tipikal orang yang suka bereksperimen dalam hal apapun. Sekali memiliki keinginan untuk membuat sesuatu, akan sangat saya tekuni. Begadang, membaca banyak hal, menjadi konsekuensi lumrah untuk mewujudkan eksperimen itu. Sehingga, sering kali banyak teman menyebut saya: terlalu ambisius.

Selain itu, saya memiliki hobi nurut-nurut sowan kiai dan ziarah kubur. Dua hal, yang hingga kini masih saya jaga baik sebagai laku seorang manusia yang selalu membutuhkan petuah-petuah para sesepuh. 

Sepanjang hidup, saya berada di lingkungan yang baik, dengan teman-teman baik yang selalu memantik produktivitas menjalani hidup. Dari mereka semua, saya belajar banyak, utamanya soal bagaimana menjadi manusia yang hidup dan berkewajiban memanusiakan manusia lainnya.

Saat ini, saya aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), sebuah lembaga yang berkonsentrasi dalam advokasi kretek warisan budaya Indonesia. Selain itu, saya juga mengerjakan banyak hal, seperti menulis, mendesain, membuat website, dan kerjaan lainnya yang berhubungan dengan dunia kreatif. Saya memang suka mengerjakan dan mempelajari banyak hal, karena dengan demikian saya juga menjaga nalar pikir saya agar tetap sehat dan segar.

Blog ini sayadedikasikan untuk anak cucunya kelak, supaya mereka tahu bagaimana gaya berpikir dan berperilaku sesepuhnya sewaktu muda tanpa harus mendengarkan cerita-cerita orang di sekitarnya. Juga sebagai ajang silaturahmi dengan sedulur-sedulur semua, yang kebetulan tersesat di sini.