Menteng

Senin lalu, selepas maghrib, saya menemui kawan baik, “yang agak keramat”, di Menteng, Jakpus. Sebuah pertemuan mendadak dan tidak dinyana mengingatkan saya pada pesan salah satu guru, yang ternyata telah lenyap dari ingatan.

Kawan yang selalu tegar walau sering ditikung temannya ini adalah lelaki yang selalu dawam mengamalkan filosofi hidup peninggalan kakeknya, “urip nang dunya iki mung soal ‘sabar lan ikhlas narima keputusan Sing Gawe Urip”. Maka dalam setiap pertemuan kami, “pusaka mulia” itu setidaknya tiga kali ia tuturkan. Dan tentu saja, saya selalu berusaha antusias mendengarkannya, seakan tidak pernah mendengar petuah itu.

Entah pada obrolan apa, ia tiba-tiba membahas soal keistimewaan ular, kalau bahasa dia “pembahasan kauniyah”. “Kowe ngerti ula?” Tanyanya. Saya mengangguk. “Kenapa ular itu mulutnya sakti?”

“Ya wis cetakannya begitu,” jawab saya.

“Kowe iki ncen rak filosofis blas! Dadi ngene, katanya Simbahku dulu, ular itu sakti karena ia sering puasa. Sakti maksudnya, mulutnya bahaya. Ia punya bisa. Sekali gigit, orang bisa mati. Coba bandingkan dengan sapi yang tiap hari gayem, kalo kamu digigit paling cuma getih, kaya atimu,” terangnya.

“Manungsa iku yen pengen mandhi cangkeme kudu pasa. Artinya, puasa tidak hanya menahan madhang lan nginum thok, tapi juga nahan rupa-rupa gemebyaring dunya.”

Saya membiarkan ia terus menceramahi saya, sembari mengingat pernah mendapat dhawuh dari salah satu guru terkait apa yang diucapkan kawan tadi. Dhawuh ini benar-benar hilang dari ingatan dan terpantik kembali setelah mendengar kawan yang amat filosofis itu.

Guru saya bilang,  “leluhur kita dulu banyak yang menanam, tak berharap memanen. Orang jaman sekarang itu sebaliknya, tak mau menanam tapi selalu ingin memanen. Jadi kalau mau tirakat itu ya lakukan saja sepenuh hati, jangan mengharap apapun.”

Lalu saya bertanya kepada kawan yang belum selesai bicara, “sek, bentar, kenapa harus berbisa seperti ular? Kenapa kok ga seperti ulat saja? Tidak sesakti ular memang, tapi cantik setelah menyepi dan berpuasa. Terbang indah gemulai dari bunga satu menuju bunga lainnya.”

“Indonesia terlalu keras untuk kupu-kupu yang cantik,” kelakarnya.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search