Sebuah Pesan dari Ki Seno Nugroho

Panembahan, saya mau bicara. Kebahagiaan batin itu tidak diukur dari banyaknya harta kekayaan. Derajat pangakat dan harta dunia itu tidak bisa menjadi ukuran ketentraman batin, itu hanyalah untuk ketentraman lahir. Tapi banyak manusia salah memahami, hatinya tentram jika telah memiliki harta, benda dan pangkat.

Yang saya tau, orang yang gila harta dan pangkat tinggi malah tidak memiliki ketentraman hati. Ke mana-mana selalu khawatir dan was-was, takut terjadi apa-apa.

Harta di dunia banyak, pangkat di dunia tinggi, tapi tidak pernah dermawan, tidak pernah memberi, tidak pernah menolong sesama. Padahal hidup tanpa memiliki saudara itu amat sengsara.

Kalau Semar hidupnya selalu apa adanya, tapi tidak pernah meminta-minta. Makan cuma sekali sehari pun dilampui dengan bahagia. Tetapi tetangga, mitra dan saudara menyayangi Semar Badranaya. Bagi Semar, harta paling berharga itu “berkumpul”. Jika Semar menjadi orang kaya dan memiliki derajat pangkat tinggi, tapi tidak mau berkumpul, apa besok kalau mati mau menceburkan diri ke liang lahat sendiri?

Semar bicar ini, supaya semua manusia ingat. Semar tidak niat dan menginginkan apa-apa. Dunia itu cuma sekedipnya mata. Dunia itu seperti mimpi, tapi banyak orang yang “salang tunjang ribut duchung” mencari tentram dengan cara yabg tidak baik. Dengan cara tidak benar.

Kalian rasakan sendiri. Sekarang berapa umur kalian? Sudah banyak umur kalian. Apa kalian ingat jaman kecil hingga sekarang? Seperti kedipan mata atau ucapan bibir kan? Dari kecil sampe puluhan tahun sekarang ini terasa sebentar sekali. Betul kata kiai sepuh, “hidup itu sama halnya seperti orang bermimpi”.

*Mencatat pesan hidup dari pagelaran wayang alm. Ki Seno Nugroho.

Yogyakarta, 5 November 2020

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search