Perihal Tidur

Entah dari mana mamak tau, sejak saya mulai tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga surup, pola hidup saya berubah drastis. Utamanya perihal manajemen tidur.


“Le, bekerja itu untuk hidup. Bukan hidup untuk bekerja. Nikmati waktumu, perhatikan dirimu. Waktunya buka, lekas makan dan minum. Waktunya istirahat, ya istirahat. Waktunya sahur, ya sahur. Jangan sampai tidak sahur. Dan ingat, jangan sampai sakit.” Begitulah hal yang selalu diulang-ulang ketika kami tersambung di telepon.

Memang, terhitung sudah dua minggu ini, saya baru bisa terlelap jika matahari sudah benar-benar terlihat. Hampir setiap malam banyak pikiran berkecamuk dan banyak menghabiskan waktu di depan komputer, entah membaca banyak artikel, mendengarkan ceramah hingga menonton yutup perihal baku hantam dalam pagelaran dangdut.

Sebelumnya, bertahun-tahun saya melakoni apa yang didhawuhkan Mbah Nun, bahwa tidur yang baik adalah soal kualitas, bukan kuantitas. Tidur semenit, kalo bisa nyumelehke hidup kepada yang punya, tentu saja akan lebih baik, ketimbang tidur dalam waktu panjang namun tersandera oleh banyak kecamuk persoalan dunia. Tentu saja, ini akan lebih baik jika punya kuantitas tidur yang cukup dan berkualitas.

Terkadang, hal-hal yang membuat susah tidur adalah kita sendiri. Kita yang tidak bisa berdamai dan nyumelehke apa yang berkecamuk itu kepada Yang Maha Punya. Dalam hal ini, benar nasihat Pak Quraish saat berbincang dengan Gus Baha’, “yang bisa menenangkan hatimu adalah dirimu sendiri. Manusia punya perasaan yang tidak bisa dikalahkan oleh akal dan akal tak pernah bisa mengalahkan perasaan”. Maka berlatih menyeimbangkan keduanya adalah laku hidup yang patut terus dicoba.

Perihal tidur setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda. Dalam perbedaan itu banyak pelajaran serta kearifan yang bisa disarikan. Jika sampai hari ini Tuhan memberikan karunia bisa terlelap tenang di luar tatanan waktu “ideal” orang-orang pada umumnya, maka nikmati dan bersyukurlah, karena mungkin di luar sana banyak manusia yang baru bisa terlelap setelah berhari-hari bertarung mempertahankan kehidupannya. Dan juga karena, kata Gus Baha’, syukur setingkat lebih tinggi di atas taqwa.

Yogyakarta, 15 November 2020

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search