Para Penyintas Ambeien

Ada bercandaan yang cukup masyhur, bahwa orang yang tidak pernah dikarunia sakit adalah Fir’aun masa kini. Kesehatan yang kontinyu itu bukan diartikan satu nikmat tapi ujian dari Tuhan.

Setengah keyakinan saya mempercayai hal itu. Setengah lainnya mempercayai satu catatan cukup menarik dari Dr Husen Ahmad Bajri, perihal sebab Fir’aun tak pernah sakit lantaran ia kontinyu terapi lintah selama hidupnya.

Beberapa kali saya merasa “kok seperti sudah lama tak diberi sakit”. Kalo sakit hati karena ditinggal pas lagi sayang-sayange, tak pernah saya anggap sakit. Itu cuma cara Tuhan mendidik hambanya untuk kuat dan tabah, serta mengingatkan soal apa-apa yang merasa telah dimiliki sebenarnya hanya pinjaman dariNya.

Sebab merasa lama tak mendapat sakit itulah, saya sering gelisah memikirkan, apa jangan-jangan saya ini bagian dari Fir’an. Bagian dari orang-orang yang dibiarkan sibuk pada urusan-urusan duniawiah semata.

Lahdalah, tak perlu lama-lama, Gusti menjawab kegelisahan itu. Terhitung sudah 4 hari ini, saya dibikin jalan ngangkang dan tak bisa duduk jenak lantaran embeyen, wasir atau hemoroid bahasa kerennya.

Dari sekian sakit yang pernah saya derita, embeyen menjadi penyakit peringkat teratas yang paling menyebalkan dan begitu terasa sangat menyakitkan sekali. Satu penyakit yang membikin semua aktivitas terasa tak nyaman dan asik lagi.

Beruntunglah, saya memiliki maha guru @irlegal , seorang praktisi dengan sanad pengobatan mutawattir hingga Ki Ageng @alfagumilang, yang telah malang melintang di dunia perembeyenan ini. Ia dengan sabar membimbing saya dari mulai bagaimana cara duduk hingga obat-obat apa saja yang harus dikonsumsi. Kini, perlahan tapi pasti saya mulai berjalan agak normal kembali.

Satu hal yang penting, tetap bersyukur dan jangan merisaukan sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Jangan sampai nanti ketika Tuhan menjawab kerisauan itu, malah membuat hati dipenuhi rasa maido Gusti Allah “kok tego tenan Gusti Alloh iki, wis diumbarke dewekan kok malah ditambahi lara sing gawe kelaran”.

Wes tah percaya, mending dianggep Fir’aunlah tinimbang bokong loromu dipekso terus-terusan pisahan. Kui wis mesti ra nyaman.

Yogyakarta, 20 November 2020

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search