Kebajikan Orang-orang Gila

Melihat foto Bang Jabil ini saya teringat cover buku “Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila”. Buku terjemahan kitab ‘Uqalaa’ al Majnin’ karya Abu al-Qosim an-Naisaburi, seorang ahli tafsir dan hadis, sejarawan sekaligus sastrawan terkemuka di zamannya ini, berisi serangkaian kisah-kisah orang-orang yang ‘dianggap gila’ seperti, Uwais al-Qarni, Qois si Majnun, Sa’dun, Buhlul, Salmunah si Wanita Gila, dll. 

Pada kisah Uwais, misalnya. Ia pernah dianggap gila lantaran tiap hari naik turun bukit sembari menggendong lembu. Hal itu Uwais lakukan, tentu saja dalam rangka hajat mengabulkan keinginan ibunya yang sudah renta untuk menunaikan haji.

Apa yang dilakukan Uwais itu, bagi banyak orang, adalah sebuah kegilaan. Betapa tidak masuk akal, niat ingin memberangkatkan ibunya haji, malah tiap hari naik turun bukit sembari memikul lembu.

Tapi apa yang terjadi? Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya. Saat musim haji itu tiba, Uwais menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah!

Beda zaman dan kisahnya memang, tapi Bang Jabil juga punya kegilaan-kegilaan yang sering disepelekan, kadang juga ditertawakan banyak orang. Padahal, kegilaan mengandung banyak kearifan dan bisa menjadi satu pesan moral penting, tergantung mata dan hati siapa yang menangkapnya.

Betapa ini sebuah pengingat untuk saya sendiri, agar tidak mudah menertawakan dan menyepelekan setiap proses yang sedang dititi dan dijalani setiap orang. Rahayu.

View this post on Instagram

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search