Keberanian

Apa yang dimiliki seorang balita ketika sedang belajar berjalan? Pengetahuan, konsep dan metodologi berjalan, pemahaman seputar berjalan yang baik dan benar, atau mengerti apa yang diajarkan orang tuanya? Tidak. Ia hanya punya kegembiraan dan keberanian.

Kegembiraan dan keberanian menerima ajaran orang tuanya, yang pasti tidak ia mengerti. Kegembiraan dan keberanian untuk sakit karena jatuh bangun berkali-kali. Dan berani belajar dari apa yang sedang ia geluti.

Keberanian dan kegembiraan itu tergantung bagaimana kita mengaturnya. Ia tidak melulu terikat dengan pengetahuan dan umur yang banyak. Ada orang berumur yang berilmu luas dan tinggi, tapi selalu tak memiliki keberanian dan kegembiraan, bahkan hanya untuk keluar dari zona nyamannya. Ia terlalu banyak analisa, mengkhatirkan banyak hal dari prediksi-prediksi keilmuannya.

Tidak seperti balita yang baru berjalan itu tadi. Berdiri, jatuh, menangis, merangkak, berdiri lagi. Ia ulangi berkali-kali. Hingga ia bisa berlari-lari.

Semakin dewasa seharusnya semakin bertambah pula keberanian. Memang perlu untuk menakar keberanian dengan segala analisa yang ndakik-ndakik itu. Tapi ingat, tidak semua pengetahuan yang kita miliki selalu kontekstual dengan medan yang tengah kita hadapi, bahkan tak jarang analisa dan prediksi hanya menjadi ilusi. Dan medan baru itu menjadi satu ilmu dan pengalaman baru.

Keberanian dan kegembiraan itu seperti di atas atap ini. Berani pantang mundur, meski genteng yang diinjak hampir semuanya ajur. Dan gembira karena suara Bujang trengginas @ememjebe menggelora, “Santai, Dook, stok gentenge iseh okeh neng ngisor!”

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search