Yang Dibutuhkan Orang Tua

Mungkin tidak hanya saya, tapi juga pernah panjenengan semua rasakan. Saat di mana orang tua hadir dalam lubuk hati, tatkala saya, mungkin juga panjenengan semua, berada pada situasi yang menggembirakan, entah bertamasya atau kelimpahan rizki melimpah yang tiba-tiba.

“Kapan saya bisa mengajak mereka ke sini? Menikmati secangkir teh hangat bersama di tengah rerimbunan pohon cengkeh, sekaligus menikmati sahut menyahut nyanyi burung-burung yang merdu. Mendengarkan dengan seksama nasihat hidup juga keinginan-keinginan mereka yang belum terwujud.”

“Berapa yang harus kuberikan kepada mereka, ketika tiba-tiba banyak orang yang berbondong-bondong membayar hasil jerih payah bekerja?”

Mungkin, bukan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali, kita sebagai anak berusaha untuk berbagi. Tapi bukan hanya sekali, dua kali atau tiga kali juga mereka mengujari, “Cukup, Nak. Ibu dan Bapak sudah tercukupi. Tabung saja uangmu untuk kebutuhanmu nanti.” Bahkan, jika sudah terlanjur memberi, mereka selalu menasehati, “jangan diulangi lagi membeli barang-barang seperti ini untuk kami. Ibu dan Bapak sudah bisa membeli sendiri dari hasil bertani”.

Di saat seperti itu saya harus mulai menyadari, bahwa materi atau mengajak mereka plesiran keliling negeri, bukanlah hal penting yang harus merisaukan hati. Lalu apa sejatinya yang mereka ingini?

Jawaban itu pun tiba. Pada suatu ketika, saat hening bakda maghrib, ibu menutup Alquran dan membuka mukenanya, ia memandang lekat pada saya yang tengah mengaduk secangkir kopi. “Nak, ibu dan bapak akan baik-baik saja. Hidup sederhana dari tanaman-tanaman yang ditumbuhkan Allah di ladang-ladang kita. Ibu dan Bapak akan selalu baik-baik saja jika melihatmu seger waras, selalu bergembira, hidup di lingkungan yang membuatmu tumbuh menjadi manusia yang rakus pengalaman, dan baik kepada semua orang.

Apa yang diinginkan semua orang tua di dunia ini, kecuali di masa tuanya masih bisa mendekap anaknya, melihat senyumnya setiap hari, mendengar azan darinya ketika sudah terlelap di liang lahad dan mendapat kiriman do’a hingga nanti dunia tiada.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search