Mamak

Semalam teleponan hampir 2 jam dengan mamak. Beliau menanyakan, apakah kemarin saya ikut turun ke jalan lagi. Sebab beliau khawatir melihat pemberitaan di televisi, banyak demonstran yang ditangkapi.

Setelah memastikan saya di tempat yang baik dan aman, meski dalam kondisi hati yang berantakan, tak henti-hentinya beliau mengucap syukur. Tentu saja sembari terus memberi nasihat agar saya tidak usah ikut turun ke jalan lagi. “Ora usah demo maneh ya, Le. Nek dicekel polisi, m̶a̶l̶a̶h̶ ̶s̶a̶y̶a̶ ̶s̶u̶w̶e̶ ̶m̶e̶n̶g̶k̶o̶ ̶o̶l̶e̶h̶e̶ ̶r̶a̶b̶i̶.” Mendengar kalimat terakhir, seketika kami ngakak bersama.

Setelah rasan-rasan agak panjang seputar kehidupan kami, saya mengutarakan niat serta izin untuk berpuasa lagi, sembari minta mamak untuk membuat lauk tanpa ada bahan/ terbuat dari sesuatu yang bernyawa, seperti terasi, penyedap rasa, telor, ikan, dsb. Kira-kira lauk yang akan saya konsumsi untuk sahur dan buka selama seminggu, sebelum melakoni puasa panjang yang dulu pernah diijazahkan Almaghfurlah Kiai Basyir, Kudus.

Mamak tak lantas mengiyakan. Seperti biasa, beliau akan bertanya, apa gerangan yang membuat saya tiba-tiba ingin laku seperti dulu lagi.

Pada part ini saya menjawab serius, tanpa sisipan basa-basi atau becandaan. Selama kurang lebih 2 tahun, saya merasakan ada yang berbeda dalam diri saya. Hati selalu kemrungsung, jarang bisa fokus, dan hidup terasa amat hampa, terkadang malah tak bisa menjadi diri sendiri. Menjalani hidup sekadar hidup. Seperti tak ada tujuan yang pasti. Apalagi, akhir-akhir ini sering mimpi bertemu para guru yang sangat berjasa dalam kehidupan saya. Guru yang kini tak lagi bisa saya ciumi telapak tangannya sebab telah tindak ke hadapan Sang Hyang Pencipta.

Mendengar alasan itu, mamak hening. Saya melihat layar, memastikan kami masih tersambung. Beberapa saat kemudian, bukan mamak yang bicara, tapi bapak. “Lha sampean besok nek rabi piye, Le? Mosok rabi jeh poso?”

Yaampun. Saya kira akan ada timpalan jawaban yang serius, ternyata balik lagi persoalan pembahasan perabian duniawi.

“Mosok nikah ora dulang-dulangan. Ora romantis blas!”

Lalu kami tertawa bersama. Dan bahagia itu sebenernya memang sederhana.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search