Kepada Hidup, Berilah Jeda

Ada yang bilang, sepandai dan sebijak apa seorang manusia menjalani hidup ia tetap butuh manusia lain _bahkan hanya untuk sekadar menjadi pendengar segala keresahan yang ia rasa. Seluas apa khazanah keilmuannya dan seruntut apa cara ia menasehati seseorang, tentu bukan sebuah jaminan tak butuh nasehat, ketika banyak hal tidak baik yang sedang ia dera.

Ibarat, seorang kiai dengan do’a makbul tetap butuh kiai lain untuk mendoakan dirinya, seorang dokter andal tetap butuh dokter lain untuk mengobati penyakitnya atau seorang wasit bulu tangkis akan selalu butuh hakim garis untuk memastikan keputusannya.

Sebagai manusia, kita sering kemlinthi di saat banyak keberuntungan yang menghampiri hidup. Kalo kata salah satu guru, “manusia akan cenderung menyeramahi manusia lainnya, ketika ia berhasil lolos dari lubang kehancuran”. Di sisi lain, di saat banyak hal buruk yang mendera hidup, ia bak bangkai bernafas. Tiada visi, tak punya misi, dan seperti tak pernah terdidik menghadapi persoalan-persoalan rumit.

Memang, menjalani hidup itu tidak mudah, tapi sebenarnya juga tidak susah-susah amat. Banyak orang yang tau, saat banyak hal tidak baik menghampiri, laku mematikan spirit dan melakukan tindakan-tindakan bodoh hanya akan menambah kerupekan hati. Terkadang, membiarkan laku itu terjadi dengan asumsi “hanya sementara sebagai proses healing”, menjadi pilihan yang tak bisa diingkari, padahal ia tau hal macam itu hanya membuahkan keburukan demi keburukan yang lain.

Saya teringat dhawuh Gus Miek, “Tadi, ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga) saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah, bacalah Al Qur’an.”

Setiap manusia punya cara sendiri untuk menyembuhkan kondisinya. Apapun itu, kita musti mencoba segalanya: meminta pendapat kawan hingga laku spiritual. Hidup itu seperti di atas jukung, yang mengharuskan kita mendayung sampai tujuan. Karena kita bukan Aang yang bisa membuat angin menjadi ombak.

Jedalah sejenak untuk jernih. Setelah itu bangkit dan mendayung lagi.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search