Pandemi, Fakih dan Angkringannya

Adalah Fakih, kami menyebutnya Fakingman, seorang lelaki tangguh, pekerja keras, yang baru saja selesai menuntaskan patah hatinya, kembali terlihat murung beberapa hari ini.


Sore tadi, sembari menunggui adikknya mengerjakan tugas, ia duduk bersila di atas sajadah. Khusyuk. Tasbih di tangannya berputar sedikit kencang. Entah apa yang ia rapal.

Saya sesekali mengamati kawan tua itu dari atas kursi rotan kesayangan. Fakingman masih menunduk. Tak beranjak. Tasbih di tangnnya terdengar makin kemrocak. “Sedang wirid apa dia?” batin saya.

Tak berselang lama, sayup-sayup suara Arda melantunkan “Ora Bisa Mulih” berkumandang. Disusul suara Hepi Asmara melantunkan “Dalan Liyane” dan “Sugeng Dalu”. Saya menengok. Lahdalah, Fakingman sudah klekaran memandangi gawainya. .

“Ngopo, King?” Tanya saya. Ia hanya menjawab dengan senyum khas, tentu saja dengan hidung yang kembang kempis.

“Kelingan sing kana maneh tah?” Kejar saya.

“Seseorang yang pernah dihantam badai, tidak akan tumbang karena gerimis,” jawabnya mantap dengan hidung yang masih kembang kempis.

Saya percaya, kalimat mutiara Fakingman hanya upaya menguatkan hatinya semata. Wajah gembira, senyum manis, dan hidung kempas kempisnya, tak bisa serta merta menutupi kegundahannya. Saya tak tau, apakah itu sebab asmara atau persoalan lainnya.

Yang saya tau, hari ini angkringannya tak buka. Sejak covid-19 melanda, angkringannya pun tak ayal ikut terdampak. Dengan amat terpaksa ia merumahkan karyawannya. Meski tau betul apa konsekuensinya, sesekali ia masih buka. .

“Gusti iku ora prei ngewei rejeki. Ana corona apa ora. Ana PSBB apa ora. Manungso mung diwenehi kaluwasaan kanggo ikhtiyar. Sing penting awak dewe ngerti dasar-dasare ngadepi Corona.” Begitu kira-kira kalau saya tanya perihal kabar angkringannya.

Mungkin tak hanya Fakingman, banyak orang di negeri ini yang punya kesedihan serupa. Keluar rumah, salah. Tak ke luar, lebih parah. Suara elit tak dinamis. Saling tubruk. Belum lagi soal stafsus kolonial dan soal-soal lainnya. Untung saja, masyarakat negeri ini punya empati dan daya patungan yang sangat tinggi.

“Muga-muga, wulan pasa iki akeh berkah. Kaya ngendikane Kanjeng Nabi, pasa iku dadeaken manungsa sehat. Mugi kanti pasane umat Islam, tarawehe umat Isla, ikhtiyare kabeh umat, lan do’ane para Kiai, Corona minggat saka tlatah bumi,” begitu dhawuh Rama Fakingman menutup obrolan habis maghrib tadi.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search