Tunjukkan!

Kami kira bekerja dan mencintai wanita itu tiada bedanya. Orang tak perlu tahu seberapa banyak keringat yang kami peras dan bagaimana cara berusaha terus bangun meski berkali-kali jatuh, tak diacuhkan dan sering disia-siakan. Yang perlu kami tunjukkan adalah buahnya, kemudian manusia lian menjadi komentatornya.

Kami sebagai generasi yang menjadikan Indomie makanan pokok, terus berusaha keluar dari zona nyaman yang menghanyutkan. Terus bekerja keras, mengesampingkan waktu bermain, pacaran (opo iki?) dan hura-hura. Terus menempa diri menjadi manusia yang siap untuk tidak berharap kepada para elit pemerintah.

Kami hanya tau tentang beberapa hal: Tentang bagaimana mencari cara menyelesaikan segala sesuatu yang telah direncanakan. Tentang bagaimana menjadi seseorang yang lebih berani menciptakan peluang-peluang, menghadapi segala risiko dan hambatan. Tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih kuat dan legowo, meski berkali-kali tertampar kerasnya kehidupan.

Kemudian kami punya semacam cara untuk berbagi dengan sesama. Kami benar-benar sadar, bahwa apa yang kami dapat dari hasil jerih payah juga terkandung hak-hak para kawan , maka kami perlu menyukuri dan menikmati itu dengan berbagai hal. Lewat khataman setiap bulan, lewat traktiran, membantu yang membutuhkan dan sesekali ‘mabuk-mabukan’.

Kami (untuk ini hanya saya) kira tidak perlu menuliskan yang demikian, bila tidak ada selentingan-selentingan yang menyanyat perasaan. Ada yang bilang, khataman, traktiran, dermawan dan ‘mabuk-mabukan’ adalah hasil ngelacur dari para cukong pemerintahan, kemudian dibagi ke kawan-kawan agar kadar dosanya berkurang.

Kami (untuk ini hanya saya) awalnya diam menahan segala amarah dan kebencian, tetapi pilihan melawan dengan diam ternyata tak bisa menyumbat cocot teternya.
Barulah kami (untuk ini hanya saya) sadar bahwa memperlihatkan kerja keras ternyata penting untuk meminimalisir opini kakeane yang terus berkelanjutan. Kami juga sadar, bahwa mendengarkan dan menanggapi komentar yang menjatuhkan tak perlu dilakukan, kami hanya cukup untuk istiqomah bekerja keras dan belajar menjadi insan bermanfaat, meski skupnya tak luas.

Sinilah ke warkop, kita selesaikan!

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search