Sambang Kubur

Sepuluh tahun lalu, tepat seminggu setelah purna belajar di Pesantren Raudlatul Ulum, saya dan enam kawan melakukan perjalanan ziarah dari Pati hingga Madura tanpa uang sepeserpun. Modal kami hanya mental, tekad, nekat, dengan perlengkapan kamera poket untuk dokumentasi, sarung serta kemeja untuk berziarah dan celana serta kaus untuk menyusuri jalanan pantura dan tiduran di atas bak truk ke bak truk. Satu lagi, pesangon motivasi dan doa dari para kiai.

Bagi sebagian orang, apalagi teman-teman urban saya yang mendapati cerita ini, menganggap kami gila. Alasannya, bagaimana bisa bocah-bocah santri yang tiap hari hidup dalam teralis besi pondok dan “hanya” ditempa ilmu agama, berani turun ke jalan yang tak pernah ia ketahui secara langsung dan rasakan, apalagi tanpa “uang”. Mereka tidak tau saja, kitab-kitab yang diajarkan di pondok itu bukan hanya soal ukhrowiyah, tapi juga semua dimensi kehidupan di dunia.

Meski hanya berdiam di pondok, tak jarang disebut kolot oleh kebanyakan orang, santri itu punya daya baca yang luas dan imajinasi tak terbatas, tidak hanya menyangkut ragam persoalan hidup di dunia tapi juga persoalan mati dan pascakematian. Bisa bayangkan, bukan? Mati saja menjadi bacaan apalagi perkara duniawi, yang kata salah satu teman saya, hanya remahan kuasa Tuhan.

Di antara kami bertuju, memang ada beberapa orang yang pernah diajak orang tuanya berziarah ke maqbarah-maqbarah yang akan kami singgahi dalam perjalanan itu. Dengan demikian, bukan lantas ia hafal jalan, kuat mental atas apa yang kami hadapi di jalan dan bisa menerangkan secara runtut rutenya. Jangan pikir kita bisa memasrahkan kepada kondektur bus, karena uang saja tidak punya.

Pokoknya, perjalanan waktu itu kami landasi dengan satu keyakinan, “Tuhan akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, tanpa memedulikan ruang dan waktu”. Benar saja, kami dapat tumpangan truk bak terbuka pengangkut semen, yang mengantar kami dari Pati hingga parkiran tronton Pabrik Semen Gresik di Tuban. Ya, kami diturunkan di parkiran, yang jaraknya sekitar 8 km dari jalan Pantura.

“Kon sih ora ngomong mau pas rep belok. Sik tak cegatke truk sing lg metu soko tambang,” begitu jawaban sopir ketika kami mengutarakan pertanyaan dengan muka linglung seperti qirdun ketulup. Dan akhirnya, kami harus keluar pabrik menuju pantura dengan berdiri tepat di antara kepala dan bak truk, yang mengakibatkan wajah kami hitam bekas asap cerobong.

Waktu itu, mungkin sudah pukul 01.00 dini hari, saat truk menurunkan kami tepat di jalan Pantura. Kami beristirahat di surau tak jauh dari situ, paling-paling sekitar 20 meter. Klekaran dan mengelus perut keroncongan adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan setelah bersih-bersih dan meneguk air kran musala. Tak berselang lama, seorang renta datang dan kaget melihat 7 remaja yang gulang guling, mata klap-klip, menahan lapar. Kalo tak salah, namanya Mbah Agus, seorang takmir sekaligus muazin. Kami salami dan bincang-bincang ngalor ngidul.

Salah satu dari kami ada yang ahli dalam persilatan, utamanya jurus-jurus silat lidah. Ia kemudian selalu kami andalkan dalam mbribik orang dalam perjalanan. Tak perlu waktu lama untuk membuat Mbah Agus tersentuh. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk membuat Mbah Agus pulang dan kembali menenteng sebungkus ketela rebus sisaan. “Anane mung telo yo, Le. Kanggo ganjel,” kata Mbah Agus.

Perjalanan kami memang penuh kepasrahan. Dikasih makan, alhamdulillah. Tidak dikasih, ya minum air masjid atau musala. Dikasih tumpangan, alhamdulillah. Tidak dikasih tumpang ya jalan kaki.

Kami pernah hampir putus asa di tengah jalan. Kami selalu mengandalkan lampu bangjo untuk menumpang truk-truk besar yang mengarah ke timur, nahasnya, menurut orang-orang sekitar, dari musala Mbah Agus tidak ada lampu bangjo hingga kompleks makam Sunan Bonang, Tuban. Karena kami bocah-bocah bakoh dan selalu riang gembira, maka kami tidak terlalu masalah, “ntar juga sampe”.

Kami sudah berjalan sekitar 3 jam. Tiap kali ada truk lewat, kami melambaikan tangan. Dan alhamdulillah tidak ada satupun truk yang menyambut lambaian tangan kami. Ada beberapa yang menjengkelkan, kernet-kernet truk itu membalas lambaian tangan kami dengan riang gembira sembari sopir tancap gas begitu saja. Sepanjang jalan ini hanya ada tambak dan rerimbunan hutan. Edyan. Rasanya ingin tidur di tengah jalan biar truk-truk ini berhenti, tapi kami sadar, dicium truk tak seindah yang kami bayangkan.

Dan, saat keputusasaan itulah, Tuhan memberi sedikit penerangan. Ada pom bensin nyempil di antara rerimbunan. Kami mendapat tumpangan dari seorang Kristiani taat. Dengan Avanza silver, ia mengantar kami hingga makam Sunan Bonang. Tak hanya itu, ia memberi kami uang 100.000, nilai yang cukup besar kala itu. Kami juga pernah tiba-tiba ikut resepsian dan makan prasmanan saat tiba di masjid Akbar Surabaya. Nikahan siapa? Ya saudara sebangsa dan setanah air.

Ziarah kala itu kami fokuskan untuk wali 5 dan Mbah Kholil Bangkalan. Tapi ternyata takdir memberi bonus kepada kami bisa ziarah dan sowan kepada pengasuh pondok di Jombang. 4 hari kami bisa menziarahi para wali di Jawa Timur dan Madura. Waktu singkat dan beribu pelajaran yang tak bisa ditukar dengan jumlah apapun, apalagi dengan sejumlah uang. Cerita mendetail soal ziarah ini sudah saya tulis dalam buku “Wali Bonek”. Buku yang saya tulis, edit, layout, dan cetak sendiri. Dibagikan kepada sanak famili sebagai kenang-kenangan.

Sudah lama pula, saya ingin kembali berpetualang. Belajar dari orang-orang di jalan soal hidu dan kehidupan, sekaligus sowan dan ziarah kepada para sesepuh bangsa. Dan hari ini, saya mencoba mencorat-coret rencana. Kapan terlaksananya, biar semesta yang bekerja.

Tangerang, 27 Mei 2020

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search