Ketika Irul Menerima Gaji Pertama

Kemarin bocah mbeling bin jenaka ini mengabari saya, jika ia menerima gaji pertamanya sebagai pekerja kreatif.

“Alhamdulillah,” batin saya.

Saya sempat khawatir ia terlalu kurang tepat memaknai zuhud, baik lughatan maupun syar’an. Bayangkan saja, bocah mbeling nan jenaka ini pernah beberapa kali bilang, ingin menjadi seorang yang zuhud, sehingga ia tidak peduli lagi dengan dunia seisinya, khususnya dalam percintaan dan maisyah.

Meski saya paham, kalimat macam itu ia utarakan hanya sebagai ungkapan kekecewaan lantaran sering diabaikan pujaan hatinya, tetap saja saya sebagai kawan sepersilatan merasa was-was kalau-kalau hal demikian terus diamini dalam alam bawah sadarnya.

Tentu saja, selain mengabari soal gaji, ia berkabar juga soal janji mentraktir saya dengan gaji pertamanya.

“Aku urung neraktir njenengan iki, Kang,” pesannya.

Karena kami sedang terpisah jarak yang amat jauh, saya menyarankan traktiran untuk saya diberikan saja ke 7 pengemis yang ia temui di jalan. Lalu ia menimpali, “pengemis atau anak yatim, kang? Yatim wae ya, di RW ku banyak anak yatim.”

Membaca jawaban itu, saya jadi teringat mamak dan teman-temannya di Muslimat, yang tiap Muharram rutin mengadaken acara santunan anak yatim.

Tanpa pikir panjang, saya jawab “ya”.

Dan sore tadi ia mengirim foto lengkap dengan kalimat “Iki ya Kang, siap didistribusikan”.

Jyaaan. Saya ternyuh. Tidak hanya soal gaji pertamanya untuk berbagi, tapi juga soal orientasi kenapa manusia musti bekerja, juga menyaksikan bocah mbeling nan jenaka ini perlahan hilang galau-galaunya karena, sepertinya, telah menemukan pendamping yang siap lahir bathin menemani kelak hingga masa senjanya.

Semoga barokah yo, Le Choirul Hudha

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search