Ketika Bung James Menangis

Bertahun-tahun berkawan dengan lelaki yang selalu bergemuruh revolusi dalam dadanya ini, tak pernah sekalipun saya mendapati air mata tumpah dari matanya. Dalam situasi apapun, entah sakit karena cinta atau tuntutan demonstrasi yang selalu dinista, ia tetap tegar.

Awalnya saya menduga, terlahir sebagai seorang revolusioner memang wajib hukumnya pantang untuk menangis, tapi dugaan itu ternyata salah.

Senin lalu, saya menyusul sang revolusioner berdarah Betawi ini, sebut saja Bung James, ke Kudus. Turun dari gojek di pelataran pesantren, saya menelponnya. Tak butuh waktu lama, ia terlihat batang hidungnya menghampiri. Kopiah hitam, celana panjang, kaos oblong, kacamatanya khas, sebatang kretek di tangan kiri dan gawai di tangan kanannya, membuat saya terkesima. Wajahnya terang benderang, memancarkan aura pelaminan, eh kesantrian.

Setelah beramah-tamah di aula pesantren, malam harinya kami berziarah ke maqbarah Waliyullah Eyang Suryo Kusumo – Assayyid Ahmad Ba Faqih, dan lanjut ke maqbarah Sunan Kudus. Di sini, saat kami menunduk dan bersila tahlilan di tengah puluhan orang yang juga memanjatkan do’a-doa, tangan kiri saya terasa basah. Seperti ada air yang jatuh dari atas. Saya mendongakkan kepala, mencari makhluk  apa yang membuang air sembarangan.

Astaghfirullah, saya mak jenggirat mendapati sosok grandong yang nyengir bergelantungan di atap. Becanda nding, masa berani dedemit macam grandong dan bala-balanya masuk wilayah sini. Tak ada apa-apa di atas, lantas saya kembali menunduk, memejamkan mata, mengikuti Mas Udin yang memimpin kami. Tapi, tangan kiri saya terus seperti terciprat air, sehingga mata kembali terbuka. Sayup-sayup telinga saya mendengar isak. Sangat pelan sekali.

Saya menengok ke kiri, mencari isak yang malu-malu itu. Lahdalah, Si Bung tengah menunduk, mencopot kacamata, dan menyeka air mata. Bukannya turut larut dalam kesedihannya, saya malah merasa bergembira. Akhirnya lelaki yang tak pernah meneteskan air mata itu, kini tidak hanya menetes, melainkan banjir air mata. Tak tanggung-tanggung, ia terisak hingga kami selesai berziarah.

Sebagai kawan yang berusaha merasakan kepedihan hatinya, saya mengelus punggungnya sembari berbisik, “Sabar, Jems, nanti kalo waktunya menikah, pasti jodoh datang. Memang rasanya sakit sekali ditinggal nikah. Sabar, ya.”

“Bukan, Cuk. Tiba-tiba aku merasa kotor sekali. Tidak tau kenapa, tiba-tiba ingin menangis,” cegahnya.

Betapa saya yang gantian menangis di dalam hati mendengar jawaban itu. Betapa beruntungnya Bung James, atau setelah ini saya panggil ia Gus James, menemui titik intimnya dengan Tuhan. Yang bisa menangis karena menyesali segala hal di masa lalunya.

Terlepas dari itu, saya sekarang tau, kenapa setiap kali dunia percintaannya goncang, ia selalu bertapa solo di warung-warung kopi. Tak mau ada yang menemani. Iya. Memandang segelas kopi, menulis puisie, dan sisanya menangis. 

Yogyakarta, 28 Agustus 2020

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search