Habib Rohman, Bir (Bear) Brand dan Saya

Suatu ketika saya diajak mas sepupu dan rekan Bansernya sowan ke Habib Rohman, Warugunung, Bulu, Rembang. Saya agak kaget sebenarnya, pasalnya baru kali ini saya tau ada habib di daerah saya, sakti mandraguna lagi menurut penuturan sepupu saya.

“Tapi resikna atimu sadurunge sowan Habib Rohman, ya. Soale belio suka menebak nasib dan apa yang sedang dipikirkan orang lain,” kata sepupu saya amat yakin.

Walahdalah. Harus pakai apalagi saya membersihkan hati, ketika masih ada perasaan “bisa melakukan tanpa pertolongan Tuhan di hati”. Dengan bycleankah? Atau soda api?

Sejujurnya, saya paling trauma bertemu kekasih Allah yang memiliki keistimewaan wineruh sadurunge kedaden (bisa menguliti jeroan orang lain, ga cuma jeroan tapi juga bisa menebak masa depan), tapi apa boleh buat, yang ngajak mas sepupu terbaik. Setidak-tidaknya mengiyakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.
.
Saya dibuat lebih terperanjat saat menapakkan kaki di halaman rumah Habib Rahman. Begitu banyak masyarakat yang sowan, dari anak-anak, ibu-ibu sampai bapak-bapak. Lebih menakjubkan lagi, Habib Rohman tidak mengenakan jubah ala orang Arab saat menerima tamu-tamunya, melainkan hanya sarungan, berkacamata hitam dan topi yang pet dengan membiarkan dadanya telanjang, tentu sambil klepas-kelepus ngudud. Merakyat dan nyentrik sekali, batin saya.
.
Singkat cerita, tibalah giliran kami menghadap. Dari dekat saya baru menyadari, bahwa di balik kacamata Habib Rohman terdapat perban yang menutupi matanya. Seketika saya menundukkan kepala, tanda hormat. Saya tetap diam, sementara Mas Sepupu dan kawannya mengutarakan kedatangan mereka: silaturrahmi dan meminta doa suwukan.
.
Tiba-tiba Habib Rohman menunjuk saya. “Le, aku tukoke rokok Gudang Garam rong plat karo bir!” dhawuhnya.
.
Saya tambah terperanjat. “bir”? Belio mengajak mabuk-mabukan kami? Batin saya kala itu. Saya agak kurang yakin, barangkali pendengaran saya yang salah, maka saya angkat suara. “Rokok kaleh ‘bir’, Bib?”
.
“Iyo!”
.
Lahdalah. Saya tak berani menolak. Saya lirik mas sepupu, ia berkedip pertanda saya harus segera pergi melaksanakan misi mencari rokok dan bir!

Banyak sekali pertanyaan yang bergelanyutan di otak saya, tapi yang menjadi soal bukan pertanyaan itu, melainkan ke mana saya harus mencari bir?

Tanpa babibu, saya pergi ke Sulang, sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 5 km dari tempat tinggal Habib Rohman. Rokok sudah dapat, tinggal birnya yang masih belum di tangan. Tanya orang-orang yang sedang nongrong, saya malah dibalas dengan wajah sinis. “Ini santri macam apa, pakai sarung, pakai peci, yang ditanyakan warung yang jual bir?” kiranya begitu batin orang-orang.

Saya menyerah. Saya tak bisa diandalkan soal beginian. Akhirnya saya menelpon Mas Sepupu untuk melaporkan kedala lapangan. Sambil berbisik dia bilang bagaimana caranya saya harus balik membawa bir!

Telepon saya matikan. Saya menghela nafas sejenak. Tiba-tiba HP berdering. Nomor baru. Setelah saya angkat, saya baru tau kalau suara dari seberang adalah Habib Rohman. Duh makin gemetar dan bingung harus jawab apa kalau ditanya, sudah dapat birnya apa belum?

Benar saja sesuai prediksi, Habib Rohman bertanya, saya menjawab apa adanya.

“Aku ngakon awakmu tuku Bear Brand alias susu beruang. Bukan bir yang buat mabuk-mabukan!”

Mengisi workshop penulisan di Rumah Kretek Indonesia

Lalu, apa hubungannya dengan foto di atas?

Sepulang saya dari menjalankan misi, Habib Rohman memprediksi masa depan saya dan mas sepupu. Menurutnya saya kelak akan berbagi banyak hal kepada orang lain. “Awakmu baguse dadi guru. Soale awakmu seneng berbagi, seneng ngalah”. Sedangkan mas sepupu dianjurkan untuk berdagang dan kulakan dari daerah timur, Surabaya. Walhasil, entah kebetulan atau apa, dhawuh Habib Rohman saya pikir ada benarnya. Masyoook, kalau bahasnya Agus Mulyadi. Wallahua’lam.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search