Gugur Gunung

Sebagai manusia yang dilahirkan dan dibesarkan dalam balutan adat, budaya dan tradisi Jawa, saya tak bisa lupa tradisi gugur gunung yang turun temurun dijaga oleh masyarakat Melatirejo, sebuah desa kecil di Kabupaten Rembang selatan sana. Sebuah tradisi menyambut bulan puasa yang syarat spiritual dan kritik sosial terhadap orang-orang moderen masa kini.

[Baca juga: Tidak Makan Semen]

Gugur gunung adalah tradisi menyambut bulan puasa dengan membersihkan makam sanak kerabat. Biasanya kegiatan ini dipimpin langsung oleh perangkat dan tetua desa, sehingga lebih terlihat kompak dan terorganisir.

Selain dijadikan ajang berziarah dan menjaga kebersihan lingkungan pemakaman, tradisi gugur gunung juga dijadikan  gerakan melawan pikun  para pemuda akan nama, silsilah dan sejarah sesepuhnya masing-masing.

Dengan mengingat dan mengetahui para pendahulnya, maka pemuda akan memahami sejarah masa di mana sesepuhnya hidup, supaya tak mengulangi kesalahan yang sama dan dapat mencari solusi atas kegagalan para sesepuhnya dalam berbangsa dan bernegara.

Hal ini tak lain karena pahamnya kaum tua akan sikap pemuda yang lebih doyan dan hafal isi media sosial yang penuh berita hoax dan kebencian, ketimbang narasi sejarah bangsanya, atau bahkan sejarah embahnya sendiri misalnya, yang notabene masih satu aliran darah.

Niat mulia tersebut  perlu digelorakan, bahkan kalau perlu gugur gunung digelar tiap seminggu sekali, guna menginvestasikan keabadian masing-masing orang. Seperti pesan penulis masyhur, “Orang boleh pandai dan keren setinggi langit, selama ia tak pernah melakukan dan mewariskan ziarah serta gugur gunung kepada anak cucunya, maka ia akan hilang ditelan arus pusaran sejarah.”

Pada akhirnya saya menyadari bahwa Melatirejo, desa yang pernah kukencingi semasa kecil itu telah mengajari saya secara tak langsung tentang pentingnyanya menjaga adat, budaya dan tradisi peninggalan nenek moyang, tanpa harus mengesampingkan agama Islam yang juga telah turun temurun dianut oleh hampir seluruh penduduknya.

Ah, apa boleh buat. Besok sudah Ramadhan. Gugur gunung hanya sebuah kenangan. Sekarang yang bisa saya lakukan, ya, melihat hilir mudik peziarah menyambangi dan meninggalkan Taman Makam Legoso dari teras kontrakan.

*Nulis opo aku iki?
Ciputat, 26 Mei 2017 | Di antara rindu ibu dan ayu

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search