Driver Ojek Online Utusan Tuhan

Ini bukan promosi. Ini soal menjadikan guru dan mengambil hikmah dari segala sesuatu yang tertangkap inderawi. Karena Tuhan tak pernah tanpa maksud menciptakan alam semesta beserta semua geliat isinya ini.

Bila dulu, zaman sebelum peristiwa 65, pasukan semut merah (PKI) sempat mewarnai Jakarta bahkan pelosok-pelosok Nusantara, kini giliran pasukan hijau mencengkeram beberapa kota besar di Endonesa (ejaan versi Sujiwo Tedjo). “Pasukan hijau” yang saya maksud bukan untuk menyimbolkan para kader suatu partai atau organisasi mahasiswa yang hampir semua kadernya memiliki tingkat keunyuan di atas rata-rata. Bukan.

Sebut saja pasukan hijau ini adalah para driver ojek online yang selalu ada dan berlipat ganda. Mereka itu adalah manusia-manusia yang luar biasa, yang tak pernah takluk oleh panas dan hujan serta kuat menahan godaan penumpang dedek gemes yang mempesona. Syahdunya, mereka berprinsip sederhana, pantang pulang sebelum penumpang sampai tujuan.

Kalau dipikir lebih mendalam, driver ojek online itu juga seperti gebetan, sejauh mata memandang dan kaki melangkah, mereka selalu terbayang. Saya kira mereka juga penyambung lidah dan hajat rakyat, macam Koesno Sosrodihardjo (Bung Karno). Mereka adalah juga para guru. Guru yang selalu berbagi ilmu, pengalaman dan buah-buah pikiran yang tidak pernah diajarkan di dalam kelas.

Saya tegaskan lagi bahwa tulisan ini bukan suatu bentuk promosi. Saya harus mendokumentasikan ini karena ada hal-hal penting yang semoga kelak dapat dibaca dan dijadikan hikmah oleh anak cucu saya sendiri.

Bila kemudian pihak ojek online membaca dan ingin mengapresiasi, silahkan dialihkan saja kepada anak-anak yang tinggal di kolong jembatan dan orang-orang tua renta yang masih berjibaku dengan panas, hujan dan kebisingan Ibu Kota guna mendapatkan sesuap nasi.  Atau membangunkan perpustakan di tempat-tempat yang rawan terdholimi penggusuran. Katanya ojek online melayani untuk negeri, bukan?

Driver Ojek Online Utusan Tuhan

Dishubtrans pun bakal tindak tegas. Yakni dengan terus berkonsultasi dengan Polda Metro Jaya dan Organda soal langkah penanganan terhadap ojek berbasis aplikasi yang tidak masuk dalam kategori angkutan umum.

Sejak munculnya ojek online, hampir semua handphone teman yang berhasil saya amati dan bajak, terinstal aplikasi ojek online, bahkan ada beberapa teman yang tak tanggung-tanggung dan terkesan maruk menginstal semua aplikasi ojek online. Anehnya, saya tidak tertarik untuk ikut serta memanfaatkan transportasi yang katanya kilat mengantar penumpang dan ramah saku itu. Karena bagi saya, selama Shogun plat K saya masih bisa berjalan saat digas, saya tak perlu memenuhi memori internal HP bapuk saya.

Akhirnya, seminggu yang lalu, lantaran Shogun plat K ingin dimanjakan dibengkel dan kepepet hilir-mudik urusan pekerjaan, mau tak mau saya mencoba mendownload aplikasi Go-Jek. Saya tak perlu waktu lama untuk memahami aplikasi ini, selain karena mudah, iklan-iklan di televisi telah mendidik saya memahami aplikasi ojek online tersebut, layaknya stasiun televisi yang sukses mencuci otak anak-anak untuk lebih menghafal mars sebuah partai ketimbang lagu kebangsaan Indonesia.

Sebut saja Pak Paimin, Driver Go-Jek yang pertama merelakan joknya saya nodai dan mengantarkan sampai tempat tujuan. Dalam perjalanan, seperti halnya yang saya lakukan kepada orang-orang baru, saya berbicara remeh temeh. Menanyai ini dan itu. Hingga memancing Pak Paimin bercerita nasibnya, secara singkat dari kecil sampai berkahir menjadi driver Go-Jek. Pun suka duka sering merasa diperlakukan tidak adil oleh manajemen Go-Jek.

Tuhan memang selalu tak kehabisan cara untuk mendidik hamba-Nya yang makin mbalelo. Beberapa hari terkahir saya selalu teringat kepada ibu. Ada hal-hal yang sekan membuat begitu berdosa terhadapnya. Tak kunjung lulus kuliah, barangkali alasan tepatnya. Apalagi setiap hari, seorang senior selalu memutar lagu-lagu shalawat yang dipopulerkan Gus Ali Gondrong, Mafia Shalawat, khusunya yang berjudul ‘ibu’. Setiap mendengar lagu itu, saya semakin merasa berdosa terhadapa kedua orangtua, khusunya ibu yang telah wahnan ala wahnin mengandung serta merawat saya.

Entah suatu kebetulan atau tidak, Pak Paimin bercerita yang titik tekannya mengenai karomah seorang ibu. Ia mengaku sangat  menyesal karena tidak mematuhi apa yang dikatakan ibunya. Masa mudanya doyan foya-foya dan menjadi pembangkang dalam keluarga. “Kalau dulu saya patuh, tidak mungkin setua ini saya harus narik ojek, Mas. Saya pasti seperti adik-adik saya yang sudah tenang menikmati hasil tanamnya semasa muda. Bisa puya banyak waktu bercengkerama dengan anak-anak dan keluarga,” ungkap Pak Paimin sembari membuang napas panjang.

Tak berbeda jauh dengan Pak Paimin, 3 driver Go-Jek yang siap siaga bergantian saya ajak muter-muter di daerah Kuningan, juga membincang hal yang sama. Pak Sunyoto (samaran) salah satunya, bercerita mengenai kisah heroik ibunya yang berhasil menghidupi 12 orang anaknya seorang diri. Kekuatan seorang ibu, baginya, melebihi kekuatan ratusan prajurit Kopasus sekalipun. “Tanpa ibu, mana ada prajurit Kopasus. Iya tidak, Bang?” Tanyanya. Dan saya hanya terus membombong Pak Sunyoto agar terus berkisah.

Sebenarnya saya tidak terlalu terkesima dengan cerita para abang Go-Jek tersebut. Karena saya sadar, ibu adalah manusia terbaik dan pantas untuk dikenang serta diceritakan, serta dibanggakan kepada orang lain. Pun karena setiap ibu memiliki sisi heroik masing-masing. Dan seorang anak wajib mengetahui itu.

Setelah mendengar dan mencoba menelaah, hati saya tersayat-sayat dan merasa ingin mencium kedua telapak kaki ibu.

Jauh sebelum bertemu dengan beberapa tukang ojek online itu, saya pernah mendapat nasehat yang sama dari kawan ahli dakwah. Ia Berjenggot dan segala yang ia lakukan, katanya, sesuai dengan ajaran Muhammad. Dengan senjata puluhan dalil dan ayat Alquran, ia mencoba menasehati saya agar senantiasa mencintai ibu dengan sepenuh hati. Tetapi, entah mengapa sedikit pun hati saya tak bergetar.

Sehingga saya menyadari, bahwa sampai atau tidaknya pesan seseorang, bukan terletak pada apa profesinya, melainkan pada sebuah ungkapan tanpa harapan embel-embel tertentu. Bukan pula seorang pendakwah, yang dengan pede merasa membawa dan meneruskan ajaran Muhammad, mampu membasahi hati umat Islam yang tengah dilanda paceklik keimanan.

Sepertinya Tuhan memang ingin menyadarkan saya pada suatu hal. Saat menuju perjalanan pulang ke Ciputat, Abang Go-Car yang saya tumpangi tak henti-hentinya mengajak diskusi mengenai ormas-ormas Islam radikal. Entah mengapa, Si Abang ini tampaknya benar-benar menguasai materi mengenai konspirasi konflik-konflik yang bersentuhan dengan agama.

Awalnya saya tak tertarik, tetapi Si Abang ini tampaknya butuh lawan main untuk menyalurkan analisa sopirnya mengenai suatu kasus yang sering diperdebatkan mahasiswa di kampus. Semisal tentang kubu pemegang saham kebenaran milik Tuhan yang getol mengampanyekan negara Islam. “Mereka itu yang dipelajari entah apa? Kok bisa-bisanya mikirnya sengklek seperti itu.” Begitulah akhirnya kalimat pamungkas yang ia katakan setelah berbicara panjang lebar. Seperti ia ingin berbuat, tapi sadar tak ada hal yang bisa ia ubah.

Akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa yang disebut guru bukan hanya mereka yang mengajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah dan yang disebut murid bukan hanya mereka yang belajar di dalam ruang kelas. Guru dan murid, sebuah kata terbatas yang memiliki makna serta tafsir luas. Tentu hal ini mengingatkan saya pada ajaran Kiai Humam Jazuli, Ploso, Kediri.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search