Buku Pak Guru Tops

Kisah ini bermula H+6 Lebaran tahun lalu. Ketika saya menjemput adik sepupu, Sania Zulfa, di rumah temannya yang kebutulan putri salah satu guru bahasa Indonesia favorit saya, Pak Guru TopS.   Sejak lama, saya juga ingin sekali sowan kepada beliau untuk meminta beberapa petuah soal kehidupan sekaligus bertukar cerita. Kalau tidak salah, terakhir kali bertemu 3 tahun lalu, saat ikut hurmat haul KH. Suyuthi Abdul Qodir, pendiri pesantren dan Madrasah Raudlatul Ulum Guyangan Trangkil Pati.  

Betapa bahagianya hati saya, selain memiliki sosok guru yang tidak hanya humble dan produktif menulis, tetapi juga hobi berkebun. Beliau kini membudidayakan jamur yang kemudian disulap menjadi berbagai macam olahan. Satu spirit bertanam di tengah banyak manusia menggusur ruang tanam, yang tentu saja sangat perlu kita teladani dan sebarluaskan.   Sembari menikmati semerbak asap Djarum Super, Pak Guru bercerita banyak hal, salah satunya terkait naskah-naskah cerpennya yang beberapa sudah dipublikasikan di media sosial dan sebagian besarnya tersimpan dalam memori laptonya.  

Terbersit dalam kepala saya dan kemudian begitu saja saya utarakan, kenapa naskah-naskah itu tidak dikumpulkan menjadi satu buku dan diedarkan secara luas? Pertanyaan itu disambut baik oleh Pak Guru, hingga akhirnya kami menyepakati sebuah rencana untuk membukukan kumpulan cerpen Pak Guru. Pak Guru akan memilih cerpen-cerpen terbaik dan kemudian dikirimkan kepada saya untuk diedit dan diterbitkan.   Selang beberapa bulan, saat saya sedang di Yogya untuk sebuah pekerjaan dan berjumpa dengan teman-teman hebat, notif handphone berbunyi.

Pesan email berisi file beberapa cerpen Pak Guru saya terima dengan baik.   Saya lantas menghubungi beberapa teman yang bergeliat pada dunia penerbitan. Barangkali berkenan menerbitkan naskah kumpulan cerpen ini. Alhamdulillah, akhirnya ada salah satu penerbit di Yogya yang berkenan menerbitkan. Saya secara pribadi mengucap banyak-banyak terima kasih.  

Hanya rasa takjub, tiap kali membaca naskah Pak Guru. Cerpen-cerpennya berkisah perihal romansa di pesantren. Sebuah anak-anak rohani Pak Guru yang mampu membius pembacanya menuju realitas romansa pondok, dengan bahasa yang sangat mudah dan ringan dipahami. Seperti pada cerpen Kesetiaan Bukanlah Janji I&2, Pak Guru berhasil membangkitkan bagaimana cerita cinta seorang santri di pondok pesantren itu bekerja natural dan dalam.  

Dari kumpulan cerpen ini, kita semua juga akan tau, bahwa Pak Guru juga sosok yang sangat-sangat romantis. Semoga saja, kumpulan cerpen ini akan menajdi salah satu pemantik bangkitnya literasi pesantren di kemudian hari.   Kini, kumpulan cerpen Pak Guru sudah purna tahap editing dan masuk tahap layout, pembuatan cover, pengurusan ISBN hingga nanti siap terbit. Semoga, bila tak ada kendala, akhir Juni buku kumpulan cerpen ini sudah dapat dinikmati oleh teman-teman sekalian. Mari do’akan sama-sama ya.   Sehat-sehat selalu, Pak Guru.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search