Jawa Terbelah?

Cerita tentang Syaikh Subakir sudah usang di memoriku. Ceritanya kudapat dari sebuah buku tipis yang pernah kukhatamkan ketika masih nyantri di Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Aku lupa judul buku itu, maklum sudah lama sekali aku membacanya. Kucoba mengingat kembali tentang cerita-cerita beliau –yang katanya– pernah menaklukkan dedemit tanah Jawi, sehingga status ‘jalmo moro, jalmo mati’ bisa hilang, dan kini tanah Jawa sudah bisa ditempati manusia hingga beranak pinak.

Aku terdorong untuk kembali mengingat nama Syekh Subakir tersebut gara-gara obrolanku dengan simbah dan pak lek beberapa hari lalu. Ketika kami asyik membincang betapa susahnya menjadi petani tembakau hingga mrembet ke berbagai bencana alam yang tengah mengajak akrab negara Indonesia kini. “Lha kui, aku krungu nang radio, jare Rembang wetan lemahe mudun 5 cm,” ujar simbah di sela-sela obrolan kami.

Sentak kaget mendengar ucapan simbahku tersebut. Katanya Rembang Timur tanahnya ‘ambles’ ke bawah 5 cm. “Menowo goro-goro lumpur Lapindo seng muncrat metu semono suwene kui. Dadi ngisor kui bolong, terus lemahe amblek mengisor,” lanjut simbah.

“Saestu niku, Mbah? Kok saget kados mekaten niku pripon?” Tanyaku penasaran.

“Yo iso wae tho, kui Lapindo nak orak ndang mampet yo iso bahaya, mesakke wong Sidoarjo. Lha anehe, Bakre kok malah rak ndue isin rep nyalon presiden, yok opo, Cah,” kata Pak Lekku sedikit geram dan tak ilmiah.

“Lha pripon, wong bencana puniko statuse mpon negoro seng ngurusi kok, Lek!” Aku menimpali, mencoba meredakan emosi pak lekku.

“Mbuh, serba bingung dadi wong Endonesa! Koyo nandur mbako iki, petani rak urusan nek mbako seng ditandor kui soko SAMPOERNA, seng jare gone Philip Morres tah sopo kui lho. Petani yok rak peduli, seng penting petanine podo sukses, daripada gadang-gadang merjuangke negoro, tapi pemerintahe yo rak nyejahterakke rakyat,” pak lekku berbicara berapi-api dan melebar ke mana-mana.

Simbah dan pak lekku terus saja berdiskusi, sedangkan aku sendiri memilih menutup mulut, memikirkan apa yang dikatakan kakek tadi. Apa iya, ramalan itu akan terbukti pada tahun-tahun ini? Atau, ahhhh, Tuhan, Engkaulah Yang Maha Mengetahui.
Entahlah, media-media akhir-akhir ini santer memberitakan bencana alam, mulai dari banjir, gunung yang ingin meletus, dan banyak lagi. Untuk bencana yang seperti itu mungkin kita bisa memaklumi. Gunung batuk dan banjir, itu tak lebih seperti kegiatan tubuh kita, yang kadang ingin muntah, kentut, bernapas, batuk, hingga berak. Kegiatan alamiah saja, dan kita tak patut menghujat dan menyalahkan bencana tersebut. Malahan kita dituntut untuk bersahabat dengan kejadian alamiah dan alam.

Tapi jujur, aku terus memikirkan tentang apa yang dikatakan simbah terkait ‘mlengseknya tanah’ di daerah Rembang bagian timur. Ucapan simbah itu seakan pemantik ingatan, seketika pikiranku tertuju pada ramalan Syaikh Subakir dalam buku yang aku sudah lupa judulnya. Kalau tak salah ingat, Syaikh Subakir pernah meramal bahwa suatu saat pulau Jawa akan terpisah menjadi dua bagian, tidak di sebutkan secara rinci waktu dan tepatnya di pulau Jawa bagian mana. Yang pasti, dalam buku itu disebutkan –bahkan ada gambar peta Indonesia– Jawa akan terpisah menjadi dua bagian.

Apakah ramalan ini akan terbukti dengan peristiwa lumpur lapindo dan berita yang telah didengarkan oleh simbah. Otakku mencoba melogika, barangkali ‘bisa jadi’ peristiwa lumpur lapindo ini suatu saat menjadi pemicu pulau Jawa terputus menjadi dua bagian. Secara logika, sudah bertahun-tahun lumpur dalam bumi itu menyemprot ke luar, tentunya lapisan tanah dalam perut bumi pun menjadi kosong. Setelah kosong dan terlalu lemah untuk menyangga beban diatasnya, barangkali tanah akan longsor dan air laut mengambil alih permukaan semprotan lumpur lapindo tersebut, sidoarjo menjadi lautan — ‘selat Sidoarjo’ mungkin– dan Jawa sudah terpisah menjadi dua bagian.

Namun, bisa saja hal itu tak terjadi. ‘Bisa jadi’ ramalan Syaikh Subakir itu salah. Karena masa yang akan datang itu adalah sebuah misteri, tidak ada manusia yang tahu, dukun sekelas Ki Joko Cerdas pun tak tahu, hanya bisa memperkirakan ‘tok’.

Tak ada salahnya kita senantiasa menjaga alam kita, alam Indonesia yang indah ini, kalau memang tak menginginkan ramalan Syaikh Subakir terbukti. Aku pribadi berdoa, semoga ramalan Syaikh Subakir itu hanya sebatas bermaksud menakuti-nakuti saja, agar manusia selalu menjaga dan mencintai lingkungan sekitarnya.

Aku tak membayangkan, betapa kasihan dan susahnya jikalau Jawa (Sidoarjo) dipisahkan oleh air, kasihan yang punya pacar, keluarga, dan teman-teman di sana, mesti menunggu pemerintah membangunkan dermaga dan menyediakan kapal dahulu untuk mengantar sampai tujuan. “Jaga lingkungan, sebelum lingkungan mengambil tindakan untuk membungkam kita!”

Rembang, 13 Februari 2014
15:58

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search