Pendidikan Kearifan

Pendidikan dan moral adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan untuk membangun sebuah bangsa. Saat ini, banyak kaum terpelajar yang moralnya terdegradasi lantaran di lembaga pendidikan hanya diajarkan pelajaran formal tanpa dibarengi pelajaran moral. Sehingga hal tersebut membuat Center for Research Development in Education (Cerdev) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta perlu turun tangan untuk menambal celah tersebut. 

Direktur Cerdev, Rusydy Zakaria, sembari megang dua buku tebal mengungkapkan kegelisahannya akan kondisi pelajar dan pendidikan di Indonesia saat ini. Menurutnya, banyak pelajar yang hanya mengerti bagaimana menyelesaikan sekolah, tetapi tidak mengerti maksud dan tujuan sekolah itu sendiri. “Maka jangan heran jika banyak pemerintah yang masih korupsi, karena saat sekolah tidak mendapatkan pelajaran moral,” tuturnya sembari memberikan dua buku tebal yang ternyata berisi laporan program Cerdev.

Di Kantor Ikatan Alumni (Ikal) UIN, sambil terus membolak-balik majalah-majalah hasil garapan Cerdev, lelaki kelahiran 30 Mei 1956 tersebut mengaku prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Dulu, kata Rusydy, banyak orang luar negeri yang belajar di Indonesia, namun kini sebaliknya. “Maka, seperti namanya, Cerdev berkomitmen membantu pemerintah memperbaiki sistem tersebut,” tambah Rusydy.

Berlatar belakang hal itulah, ungkap Rusydy, pada tahun 2007  ia dan  Direktur SMP (saat itu), Hamid Muhammad, memunyai rencana untuk mengembangkan sekolah unggulan dengan konsep dasar mengintegrasikan pendidikan formal dan pesantren. Maka pada tahun 2008 hingga saat ini, konsep Sekolah Berbasis Pesantren (SBP) menjadi program unggulan Cerdev bersama Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementrian Agama Repubik Indonesia.

“Kami ingin memadukan antara sekolah formal dan pesantren. Karena akhlak sangat penting dan pesantrenlah yang saat ini memiliki itu. Dengan menyatukan keduanya, insyaallah akan mencetak lulusan yang berkualitas dan bermoralitas tinggi,” jelas Rusydy.

Di sela-sela penjelasannya, Rusydy menunjukkan majalah-majalah yang berisi kegiatan Cerdev dalam melaksanakan program unggulannya. Rusydy membuka majalah itu sambil menjelaskan kegiatan yang telah terlaksana. Menurutnya, dalam upaya menyukseskan programnya, Cerdev melakukan pembinaan terhadap para siswa dan guru.

“Dalam pembinaan program tersebut, kami menerapkan tiga strategi untuk diterapkan pada kurikulum berbasis kultur pesantren. Yaitu melalui pembelajaran, ektrakurikuler dan manajemennya. Dari tiga hal tersbut, kami bermimpi bisa menjadi rujukan dalam penerapan pendidikan di Indonesia,” jelas Rusydy sambil menyedekapkan jari-jarinya.

Usaha Cerdev bertahun-tahun itu perlahan menampakkan hasil, saat ini 266 SMP yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara telah mengaplikasikan konsep garapan Cerdev. Selama itu pula, Cerdev masih telaten memberikan pemahaman, penataran dan perhatian terhadap sekolah binaannya.

Rusydy mengakui, saat ini memang hanya sekolah menengah yang dinaungi Cerdev. Namun ia memiliki tekad dan mimpi besar untuk menerapkan SBP tersebut pada semua jenjang pendidikan. Bahkan jika ada kesempatan dan kekuatan internal telah mumpuni, tidak hanya sekolah Islam saja yang digarap Cerdev, melainkan lintas agama. “Kami memprioritaskan SMP terlebih dahulu, semoga kedepannya mampu menerapkan pada jenjang SMA dan kalau bisa lintas agama,” ungkapnya.

Sejak didirikan pada 2004 silam, Cerdev telah berkomitmen menjadi peneliti, pengembang dan peracik formula pendidikan di negeri ini. Selain SBP, banyak program yang telah dilakukan oleh Cerdev, baik kegiatan yang bersifat seminar maupun penelitian lapangan. Namun Rusydy sendiri tak menampik, dalam perjalan Cerdev banyak permasalahan yang aral melintang menemani perjalanan Cerdev.

“Saat ini, pemerintah menetapkan, kalau lembaga seperti Cerdev ini atau lembaga dibawah naungan perguruan tinggi tidak bisa mengikuti lelang. Sehingga saat ini kita hanya sebatas menyodorkan konsep kepada pemerintah dan merekalah yang mengeksekusinya. Hal yang seperti ini membuat pendanaan kita tersendat, sehingga perkembangan Cerdev juga ikut tersendat. Tetapi hal tersebut tidak bisa menjadikan seharusnya melemahkan semangat kami. Kami harus senantiasa bergerak dan mengabdi kepada masyarakat, khusnya dalam memberikan formula pendidikan yang baik terhadap pemerintah,” pungkas dosen tetap Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan itu.

Dimuat di Jurnal UIN Jakarta

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search