Kredo di Tengah Panen Tembakau

Merenung dengan apa yang telah kubaca beberapa hari yang lalu, ketika di tengah-tengah kesibukan memanen tembakau. Di dalam buku tipis “Cermin Bening dari Pesantren” karya Rijal Mumazziq Zionis, aku menemukan sebuah kata-kata yang “asyik” untuk digunakan sebagai bahan motivasi untuk selalu menuliskan apa yang terekam oleh mata (tak hanya bertutur belaka) dan perenungan diri, kata-katanya seperti ini:
—-Scripta Manent Verba Volant—“Yang tertulis akan mengabadi, yng terucap akan berlalu terbawa angin”//
ditambah lagi perkataan Imam Al- Ghazali, “Sepudar-pudar tulisan lebih baik daripada pikiran yang baik, namun tak terlestarikan”. Aih,,, bak arang yang siap memelehkan tebalnya kemalasan dalam diri ini.
Setelah mendapat stimulus semangat dari dua perkataan tersebut, rasanya jari-jari ini ingin cepat2 menari di atas keyboard yang sudah hampir duaminggu tergeletak tak berdaya di laci lemari kamarku.
Segera aku menulis, menulis apa yang tengah aku rasakan di tengah liburan panjang nan membosankan tersebut. Mulai dari mengungkapkan rasa rindu kepada kawan-kawan seperjuangan, merindukan atmosfer Ciputat yang penuh dengan bermacam pilihan hidup, kisah pahit petani tembakau, sampai hal-hal yang aku sendiri menganggapnya tak penting pun sempat aku tuliskan.
Selesai aku menulis, tak terasa sudah berpuluh-puluh lembar, kubaca lagi tulisanku dari awal, mencoba meminimalisir adanya “taipo” dan EYD yang tak sesuai. Sungguh terkesima diri ini dengan rentetan huruf yang tertata rapi di depan mataku. Aku heran dan sempat menucap, “Edan, aku iso nulis koyo mengkene”. heheheh (sedikit mendramatisir sebenarnya). Namun naas dan entah kenapa, tiba-tiba aku kurang PD dengan tulisanku. Akhirnya kurevisi kembali kata demi kata yang kuanggap tak enak dibaca dan “barangkali” dirasakan. Kucermati tulisanku hingga beberapa kali, dan setiap kegiatan mencermati tersebut, aku selalu menemukan “kekurangan” dan butuh revisi. Selalu seperti itu hingga beberapa kali.
Hingga, aku menemukan sebuah kredo dari Om Komaruddin Hidayat, yang tak lain adalah rektorku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau dengan lantang mengatakan, “Kalau saja setiap penulis buku adalah seorang yang perfeksionis, maka di dunia ini akan sedikit sekali buku yang terbit.” Mengapa? Sebab begitu sebuah naskah ditulis, seketika itu juga seorang penulis akan menemukan dan menyadari betapa banyak kekurangan yang ada, sehingga harus diperbaiki dan ditulis ulang. Dan, ketika perbaikan selesai, maka kekurangan lain akan segera muncul lagi, sehingga harus diperbaiki lagi, lagi, dan lagi. Tak akan ada habis2nya.
Hal ini diperkuat dengan fans berat Mbah Pramodya yang juga tunas Forum Lingkar Pena Ciputat, Olyq el Khaliky. Ia sedikit berujar mengenai motivatornya dalam menulis, yaitu Mbah Pram tadi. MenurutOlyq El Khaliqy, Mbah Pram pun jarang atau bahkan tidak pernah mengedit kembali tulisan-tulisannya ketika naskah sudah jadi. Entah apa alasannya, aku juga lupa menanyakan kepada saudara Olyq, maklum waktu itu terlalu kecapekan karena dua jam “tidak penuh” bermain futsal bersama kawan-kawan lama.
Tulisan ini belum berakhir, tapi setidaknya bisa digunakan sebagai penghilang pengangguran Anda, karena aku yakin saat2 ini, Anda lebih banyak nganggurnya daripada sibuknya. Nah, semoga dengan adanya tulisan ini bisa berguna untuk menanggulangi penggangguran di negara tercnta ini. (nak ora nyambung yoh disambungken dewe).
—— bersambung ——-
Rembang, 19 Agustus 2013

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search