Menjadi Pembarani

“Astagfirullah,,,,, ” batinku ketika kembali membuka blog yang lama tak ku perhatikan. amburadul memang, laksana rumah yang tak berpenghuni, atau istilah Jawanya omah suwung. Seingatku,  terakhir kali membuka blog sekitar tiga bulan lalu, maklum,  kesibukan kuliah dan berorganisasi membuat lapak curhat saya ini menjadi rongsokan belaka.  hahaha

Kau tahu, dulu aku seorang penakut, sangat penakut, bahkan untuk buang air besar pun tak berani sendirian, musti ada yang menemani. Tapi kau pasti akan terbelalak melihatku saat ini, percaya ga, sekarang aku menjadi pemberani, malah lebih berani dari orang yang dulu mengantarku berak. Saking beraninya, sampai-sampai aku meninggalkan yang telah diperintahkan Tuhanku, Allah SWT.

Rasa  malas beribadah telah menggrogoti dan menaklukkan tubuh ini. Aku tahu aku salah, aku juga tahu kalau hatiku sebenarnya tidak menerima apa yang sedang terjadi denganku saat ini. Tak hanya berani melanggar aturan Tuhan, aturan Orang tua  pun ku langgar. Kliah, hehehe, jujur saja aku banyak bolosnya daripada masuk. Tapi jangan salah, meskipun pembolos sejati, aku tetap produktif di organisasiku (kata-kata ini sedikit memaksakan dan lebay sebenarnya, kekekek).

Jujur saja aku lebih mencintai organisasiku daripada kuliahku. Ialah IKAMARU, ibu yang sabar mendidik anaknya sejak kecil hingga menjadi seorang yang bisa berjalan sendiri.  LPM INSTITUT adalah  Bapak yang selalu mengajarkan anaknya untuk terus berjuang dengan ulet dan pantang menyerah. Dua organisasi inilah orang tuaku di bumi perantauan ini, bumi yang jauh dari hiruk pikuk masa kecilku.

Kembali lagi ke pokok pembahasan “aku adalah pemberani”. Kadang aku ber-alibi, bahwa keberanianku menentang Tuhan dan juga peraturan Orang tuaku hanya untuk menyetarakan kehidupanku. Tuhan juga berfirman, “wa khalawnakum azwaja / dan aku menciptakan kalian semua berpasang2” begitu kurang lebihnya, Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasang, maka kupasangi kebaikanku dengan keburukanku (ngaco, ayat34). Jadi kemarin-kemarin aku dianggap baik oleh banyak orang, dianggap paling rajin, dan dianggap paling menakutkan. Demi menghilangkan pangkat yang sedemikan rupa, aku rela melepas semua yang sebenarnya aku cintai, kuliah dan ibadah rajin.

Tampaknya terlalu berlebihan dan sangat berbahaya, jika aku meneruskan tulisan ini. Tapi yang pasti, hingga tulisan ini ku ketik, aku masih saja menjadi orang yang malas kuliah dan ibadah. Kadang aku juga berdoa, semoga suatu saat Tuhan kembali mengembalikanku ke arah yang benar. Aku bersyukur kepada Tuhan, masih memberikan waktu untuk melanggar aturannya, semoga saja Tuhan juga memberikan waktu untuk kembali bertaubat kepadanya. Terimakasih Tuhan.

About Author /

Manusia Bodoh yang Tak Kunjung Pandai

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search